Ragu MV. Nur Allya Dinyatakan Tenggelam, BAKAMLA Mohon Menkopolhukam Usut Tuntas -->

Iklan Semua Halaman

Ragu MV. Nur Allya Dinyatakan Tenggelam, BAKAMLA Mohon Menkopolhukam Usut Tuntas

Ananta Gultom
Wednesday, 12 February 2020
Kepala Unit Penindakan Hukum (UPH) Bakamla RI, Brigjen (Pol) Parimin Warsito

Segudang Tanya di Benak Bakamla

Misteri Hilangnya Kapal Kargo Nur Allya

Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia masih teguh pada kesimpulan sementara bahwa kapal kargo MV Nur Allya tidak tenggelam. Tentu saja, kesimpulan sementara tersebut diambil dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Bakamla mendorong seluruh pihak terkait untuk bersama-sama mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada kapal kargo pengangkut nikel tersebut.
Bakamla kemudian mengirimkan surat permohonan kepada Menkopolhukam Mahfud MD agar peristiwa hilangnya Nur Allya tersebut bisa diusut tuntas. “Agar lebih intensif, kita berharap agar negara hadir di kasus ini,” tegas Kepala Unit Penindakan Hukum (UPH) Bakamla RI, Laksma Bakamla, Parimin Warsito dalam wawancara khusus dengan tim Bizlaw.id di kantornya, Jakarta, Kamis (30/1/2020).
Warsito yang berseragam khas Bakamla ini mengemukakan, fakta-fakta yang ditemukan terkait hilangnya Nur Allya seluruhnya masih mengundang tanda tanya besar. Penemuan sekoci dinilai belum bisa menguatkan bahwa kapal betul-betul tenggelam. “Sebab korban satu pun tidak ditemukan, barang-barang dari kapal seperti pakaian juga tidak ada, semisal mengambang di laut,” ujar Warsito.
Bakamla dalam kapasitasnya sebagai unsur keamanan dan penegakan hukum di laut sejauh ini telah berupaya keras mengungkap peristiwa misterius ini. Di antaranya dengan melacak seluruh nomor ponsel maupun akun media sosial milik Anak Buah Kapal (ABK). Seluruh data terkait ABK tersebut diperoleh Bakamla dari pihak perusahaan pemilik Nur Allya yakni PT Gurita Lintas Samudera (GLS).
Dari 25 ABK sesuai manifest, Bakamla kemudian menemukan 1 nomor ponsel yang masih aktif. “Awalnya semua nomor ponsel ABK tidak aktif. Tetapi ada satu yang tiba-tiba online, setelah ditelusuri dan dicari ketemulah di Bogor, Jawa Barat. Namun setelah dicek ternyata pemilik nomor itu adalah seorang pekerja bangunan. Pekerja itu mengaku tidak pernah kerja di kapal dan 10 tahun bekerja sebagai pekerja bangunan,” papar Warsito.
Selanjutnya, berdasarkan penelusuran Bakamla dibantu Bareskrim Polri, akun media sosial salah seorang kadet yang berstatus magang di kapal Nur Allya juga sempat online. Namun, hanya sebentar kemudian menghilang. “Ini kan menjadi tanda tanya bagi kita. Kok bisa begitu? Makanya kami juga kerja sama dengan Bareskrim, BIN, Bais, BSSN, hingga Interpol. Tujuannya untuk mencari tahu kepastian sebenarnya,” kata pria jebolan Akpol 1988 ini.
Dikatakan Warsito, pengusutan kasus ini hingga tuntas sangat penting mengingat ada 25 ABK (sesuai manifest) yang perlu dipastikan nasibnya. “Jadi ini bukan masalah kapal dan muatannya, tetapi ada 25 ABK di sana. Apakah betul tenggelam? Kalau betul posisinya di mana? Ini kan keluarga masih terus menunggu kepastian,” ujarnya.
Menurut Warsito, berbagai teori kemungkinan atas hilangnya Nur Allya hingga kini masih terbuka lebar. Termasuk adanya motif bisnis dari pihak perusahaan. “Namun kita tetap berprinsip pada praduga tak bersalah. Sebab belum tentu juga pihak perusahaan terlibat. Bisa saja ada kemungkinan lain. Namun sampai saat ini kita masih menduga kuat bahwa kapal itu tidak tenggelam. Apalagi, nahkodanya sudah sangat berpengalaman menghadapi cuaca buruk atau kendala lain di lautan. Itu sebabnya seluruh stakeholder harus bersama-sama. Kami mendorong agar kasus ini bisa segera diusut sampai tuntas,” pungkas Warsito.
Sementara itu, seluruh keluarga korban hingga kini masih tetap menunggu bukti konkrit dari KNKT. “Bukti konkrit bahwa kapal tenggelam adalah dengan diturunkannya alat ROV untuk melihat secara visual. Keluarga juga menunggu hasil alat MBS yang katanya telah diturunkan tetapi hasilnya belum disampaikan kepada kami,” ujar Lia, salah seorang perwakilan korban kepada Bizlaw.id, Kamis (30/1/2020).
Diketahui, kapal MV Nur Allya dilaporkan hilang di perairan Halhamera sejak 23 Agustus 2019 lalu. Kapal berangkat dari pelabuhan muat PT Bakti Pertiwi Nusantara (BPN) di Perairan Sagea, Halmahera Tengah, Maluku Utara pada 21 Agustus 2019 dengan tujuan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Jarak total Sagea ke Morosi adalah 688,63 NM (nautical mile). Adapun 1 NM sama dengan 1.852 meter.
Dengan kecepatan rata-rata 10 Knots, waktu tempuh Sagea ke Morosi adalah kurang lebih 3 hari, atau diperkirakan tiba di Morosi pada Jumat, 23 Agustus 2019 pada pukul 11.15 WIT. Namun kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini tidak pernah tiba di Morosi.

Kami www.gotoseajobs.com tidak bertanggung jawab atas kebenaran laporan tersebut dan hanya sebagai referensi bagi Pencari Kerja untuk mempertimbangkan kebenaran Laporan tersebut.